Aristokrasi Pesantren

Telah banyak tulisan terkait dengan pesantren dari berbagai aspeknya. Namun ada sebuah fenomena menarik dalam tradisi pesantren yang tampaknya luput dari perhatian. Padahal, tradisi ini, saya pikir, tidak kalah penting dan menarik untuk dibicarakan, mengingat keterkaitannya dengan orang yang secara tradisional diharapkan melanjutkan tradisi kepesantrenan. Fenomena dimaksud adalah pengistimewaan terhadap anak kyai. Dalam tulisan ini, hal itu dibicarakan secara sangat mendasar dan mentah. Tulisan ini hanya berusaha mengumpulkan informasi yang seringkali tidak utuh dan karenanya belum memenuhi standar ilmiah.
Banyak yang menilai bahwa pesantren adalah institusi yang indigenous di Nusantara. Ia begitu mengakar dalam budaya Nusantara yang Islam masuk ke dalamnya melalui penyebaran damai-kultural, sehingga ia tak dapat lagi dipisahkan dari Islam dan Nusantara. Hal ini berakibat budaya yang terdapat pada masa pra-Islam, sedikit banyak, meresap ke dalam Islam-Nusantara ini. Hal ini sebenarnya bukan masalah, sepanjang tidak bertentangan dengan nilai universal Islam itu sendiri.

Pada perkembangannya pesantren semakin mendapat tempat ditengah masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan posisi pemimpin pesantren yang pada umumnya mendapat ’kelas’ sosial—untuk menyebutnya demikian—yang tinggi di tengah masyarakat.
Disamping perkembangan positif yang diraih sejalan dalam perjalanannya, ia juga tidak terhindar dari beberapa hal negatif yang bisa jadi datang dari pengaruh tradisi lokal Nusantara—khususnya Jawa-Madura.
Dalam perjalanannya, pesantren, secara sosial, dapat dinilai sebagai institusi—atau setidaknya kental dengan aroma—aristokratik; sekelompok orang yang memiliki kedudukan terhormat berdasarkan faktor keturunan.

Di pesantren wilayah Jawa-Madura terdapat sebuah tradisi—kadang dipahami sebagai kewajiban bagi santri (pelajar di sebuah pesantren)—untuk menghormati anak kyai.
Tradisi ini begitu kental dalam dunia pesantren sehingga nyaris tidak ada satu pesantren pun yang tidak memraktikkan tradisi ini—dengan corak yang beragam antara satu dan yang lainnya. Sekalipun dalam pesantren yang mengklaim dirinya modern, hereditas tetaplah merupakan faktor yang tak terbantahkan perannya, terutama dalam kepemimpinan—sekalipun pada beberapa pesantren telah mulai ada usaha untuk—setidaknya—mengurangi hal ini.

Bisa jadi tradisi ini berasal dari masyarakat Jawa-Madura sebelum kedatangan Islam. Memang, belum ditemukan data konkrit yang menunjukkan hal ini, namun setidaknya ciri aristokrasi kerajaan-kerajaan Jawa dapat pula ditemukan pada tradisi penghormatan di pesantren. Penghormatan terhadap inner circle kerajaan yang didasarkan pada kekuasaan politik berubah—dalam kasus pesantren—menjadi penghormatan-berdasarkan otoritas keagamaan.

Dalam situasi normal, menghormati orang lain adalah tindakan terpuji. Namun pada fenomena yang terjadi di pesantren ini terdapat sesuatu yang jika dibaca secara cermat akan ditemukan bahwa hal itu justru membawa dampak destruktif bagi pesantren itu sendiri.

Pada banyak kasus, penghormatan yang dilakukan terhadap anak kyai di pesantren sering tidak proporsional. Penilaian ini didasarkan pada kecenderungan seseorang yang terlahir sebagai anak kyai biasanya adalah seseorang yang sejak kecil terbiasa dengan beragam fasilitas, terutama fasilitas sosial.
Seorang gus atau lora, tanpa melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain, sedemikian rupa akan minta dihormati, hingga bisa jadi mereka berpikir bahwa penghormatan yang mereka terima adalah sesuatu yang alamiah dan ’berhak’ mereka terima—tanpa harus mereka usahakan.
Penghormatan orang pada gus dan lora umumnya didasari pada pandangan yang terkenal—terutama dalam konteks masyarakat Jawa Timur dan khususnya Madura—dan sering diulangi untuk ’meracuni’ para gus dan lora, yaitu: macan hanya akan melahirkan macan. Ungkapan ini bisa dipahami bahwa anak seorang kyai secara alamiah pasti menjadi kyai, betapapun dia tidak qualified untuk hal itu.

Menurut saya sebenarnya yang terjadi pada istilah Gus atau Kiai di kalangan NU masih relevan dan tidak terjadi pergesaran. Kiai yang berpandangan Sunni itu justru menerapkan pandangan Sunninya secara arif. Kalangan Muda NU memang lahir melalui "pencarian" dalam konteks sosial dan teologi. Namun, kayaknya terjebak dengan pandangan sosial belaka. Akhirnya, pandangan teolagis yang dipahami Kiai tidak dirujuk.

Bahkan saya melihat kiai NU sekarang justru menunjukkan pemahaman mendalam terhadap bahaya ideologi global. Dari sekulerisme, pluralisme dan liberalisme akibat globalisasi. Baik dalam bidang sosial-budaya atau pun keilmuan. Bermanis dalam silat lidah dan tulisan terkadang menjadi "gagu" dan "bimbang" dalam berpandangan secara hakiki. Pertanyaannya, apakah tidak dilihat bahwa perkembangan anak muda NU saat ini dalam berbagai pelosok Indonesia masih dalam tanda tanya besar. Antara baik atau tidak baik. Antara benar dan ketidakbenaran. Ya, memang perlu elaborasi secara arif agar klaim terhadap kiai tidak "menghakimi". Kritisisme yang berkembang di kalangan anak muda NU justru "membahayakan" bagi NU itu sendiri, disadari atau tidak. Saya melihat hal itu. semoga masih ada anak muda NU yang menyadari hal ini. Semoga.

Baca Selengkapnya..

Media Pro Rakyat Pembela Cendana

Sebelum membaca tulisan saya ini ada baiknya anda buka link ini.

Editorial Media Indonesia pagi ini menyoroti masalah BIAYA PERAWATAN SOEHARTO. Media Indonesia yang selama ini dipandang sebagai sebuah media yang paling memiliki netralitas terhadap masalah yang menimpa rakyat. bahkan ccenderung Pro terhadap kepentingan rakyat. tetapi apa yang terjadi pagi ini ternyata media Indonesia juga menjadi corong cendana dalam bersuara. Indikasinya adalah ketika pihak Editorial membela soeharto dengan berkedok terhadap masalah birokrasi yang tidak melayani dan sabagainya. "melayani mantan presiden Soeharto saja tidak pro aktif apalagi ketika melayani rakyat biasa, betapa buruknya birokrasi saat ini" ungkap SUgeng Suparwoto. demikian berulang dikatakan bahwa ini bukan masalah soeharto tetapi masalah birokrasi yang tidak pro rakyat.
tetapi sebentar dulu......perlu anda ketahu bahwa Sugeng Suparwoto adalah keluarga cendana. nah.......kira-kira apa yang sedang beliau katakan itu......?
ya....anda benar....jawabannya adalah MWENGABURKAN MASALAH.
Apakah Beliau tidak ingat bahwa Soeharto telah menikmati fasilitas negara selama 30 tahun lebih. Kini biarlah Soeharto membayar sendiri biaya perawatannya.

Baca Selengkapnya..

Kondisi Soeharto Dan Krisis Kedelai Di Indonesia

Agaknya ada beberapa kemiripan antara kondisi Soeharto dengan krisis kedelai yang terjadi saat ini di Indonesia.
Jika Soeharto saat ini hanya diam saja bahkan merespon saja tidak bisa, maka demikian juga sepertinya dengan pemerintah Indonesia saat ini. Pemerintah juga menjadi lembaga yang hanya diam dan sulit sekali merespon kondisi rakyatnya.
Kalau Soeharto yang hanya dengan dibantu alat dari luar baru merespon, demikian juga dengan Pemerintah RI. Baru merespon ketika di bantu dengan demonstrasi.
Menurut para demonstran, kenaikan harga kedelai semakin menyusahkan pengusaha yang rata-rata bermodal kecil. Untuk itu, mereka menuntut agar pemerintah segera menstabilkan harga. Apabila masalah ini belum juga bisa diatasi, para pengusaha terpaksa akan menghentikan produksinya.
sangat ironi. Kita hanya berharap agar tidak terjadi istilah ayam mati dalam lumbung padi.

Baca Selengkapnya..

Gerakan Kepemudaan Masa Kini

sengaja isi posting ini belum saya tulis karena saya menunggu masukan dari berbagai "kumpulan" kepemudaan di Kota "Santri" ini. Oleh karena itu silahkan kirim tulisan anda ke e_mail saya mas-udin.07@plasa.com.

Baca Selengkapnya..

Refleksi Tahun Baru

Tahun yang dihitung dari Hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah Hijrah adalah perpindahan dari satu tempat ketempat yang lain tetapi menurut ulama artinya lebih dalam lagi; Perpindahan dari hal-hal kekufuran kepada hal-hal yang diridhoi Allah SWT.
Sudahkah ku jauhkankah ku dari segala kekufuran? Sudah hijrahkah aku?
Sedangkan aku masih sering menunda sholatku, karena lebih mementingkan pekerjaanku, acara TV, membaca buku, tidur…..

Bila ku bersedekah masih ada yang memberatkan dalam hati, masih ada rasa su’udzon kepada sang penerima sedekah. Dan juga masih sedikit, setitik garam dilautan… masih kuhitung rejeki ku, padahal kan rejekiku itu sudah Allah tetapkan untuk ku...

Membaca Al Qur’an? masih lebih banyak aku membaca majalah atau membaca buku.
Puasa sunnahku masih jarang dan selalu harus di ingatkan dan dimotivasi.
Qiyammul Lail ku? masih belum kudapatkan kekusyu’an itu…

Dan sampai hari ini, masih belum dapat kusenangi hati kedua orang tuaku, dan masih kubebani mereka dengan kewajiban mereka terhadapku.
Ya Allah kau ciptakan Manusia termasuk aku, dengan penuh kemuliaan, tetapi setelah ku tercipta, ku jalani hidupku dengan kenistaan.

Ya Allah aku memang tidak semulia pada saat engkau ciptakan aku, tetapi apakah aku dapat terus berusaha untuk mendapatkan kemuliaan itu kembali dihadapanmu nanti di akhir hidupku? Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diriku ini dan lebih dapat mendekatkan diriku padaMU. Dalam lisanku sering ku ucapkan bahwa KAUlah satu-satunya Sesembahanku, tetapi dalam keseharianku KAU sering ku tinggalkan demi sesembahan yang lain, dunia... Astaghfirullah...

Ya Allah, jangan kau marah pada ku, jangan kau tarik hidayah ku…
Aku tak tau apa yang harus kuperbuat bila kudapatkan marah MU dan tak kupunya lagi hidayah MU

Baca Selengkapnya..