Menjelang bulan Ramadhan, media pun tidak mau ketinggalan menyuguhkan berbagai acara Ramadhan. Yang paling banyak ialah sinetron Ramdhan atau ada yang menyebutknya dengan sinetron religius. Mereka sengaja menayangkan sinetron semacam ini untuk membidik umat Islam yang ruhiahnya sedang meningkat. Namun ada beberapa hal yang perlu kita kritisi dari sinetron semacam ini
Dalam sebuah sinetron, biasanya ada suatu tokoh protagonis, atau tokoh yang kita sukai. Dalam sinetron religius, tokoh protagonis biasanya menggambarkan seseorang yang shalih atau shalihah. Yang perlu kita kritisi ialah gambaran shalih atau shalihah yang ada di sinetron adalah versi penulis cerita dan sutradara. Belum tentu shalih dan shalihah yang sesuai dengan ajaran Islam.
Biasanya (sesuai dengan pemahaman kebanyakan masyarakat), tokoh yang shalih atau shalihah ialah mereka yang rajin menjalankan ibadah ritual. Suka shalat, mengaji, dan bershadaqah adalah mereka yang shalih. Apakah itu salah? Tidak, tetapi itu hanyalah sebagian dari amal-amal shalih yang seharusnya kita lakukan. Islami tidak sebatas itu.
Seolah sangat naif jika mendefinisikan amalan Islam hanya sebatas hal-hal itu saja, tetapi kenyataan masih banyak yang masyarakat yang beranggapan seperti itu. Inilah sebenarnya yang menjadi tugas dan tantangan kita untuk menyampaikan hal yang sebenarnya kepada umat yang masih belum mengerti.
Hal kedua yang harus kita perhatikan ialah jangan sampai kehadiran sinetron bisa merusak ibadah puasa kita karena akan berkurang amalan-amalan yang justru diutamakan dalam bulan Ramadhan seperti shalat tarawih, membaca Al Quran, dan i’tikaf. Karena asyik menonton sinetron, amalan-amalan tersebut malah ditinggalkan. Sayang bukan?
Intinya, jangan sampai kita mengganti amalan puasa kita dengan menonton sinetron dan menganggap sinetron sebagai pedoman hidup. Hiburan jelas, sinetron adalah hiburan. Hikmah mungkin ada, tetapi yang jelasa bukan tuntunan hidup yang harus diikuti. Kemudian sinetron juga tidak menggantikan amal-amal puasa yang lainnya. Semoga tayangan media tidak merusak ibadah kita. Amin
0 komentar:
Poskan Komentar